Ahmad Ghozali
Seratus tahun bukan usia pendek bagi sebuah lembaga pendidikan. Banyak lembaga lahir, berkembang, lalu mengecil setelah pendirinya tiada. Sebagian bahkan hilang ketika generasi berganti. Pondok Modern Darussalam Gontor menghadirkan cerita berbeda. Didirikan pada 20 September 1926 oleh KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi, Gontor kini memasuki abad kedua dengan jaringan pendidikan dan alumni yang jauh melampaui tempat kelahirannya di Ponorogo.
Apa yang membuat sebuah lembaga mampu bertahan seratus tahun?
Jawabannya tentu tidak tunggal. Sistem pendidikan, kaderisasi, disiplin, bahasa, kemandirian ekonomi, dan kemampuan beradaptasi ikut menentukan. Namun, ada satu kata yang sejak awal justru ditempatkan Gontor sebagai jiwa pertama: keikhlasan.
Dalam Panca Jiwa Gontor, keikhlasan dimaknai sebagai sepi ing pamrih : bekerja bukan untuk memperoleh keuntungan pribadi, tetapi sebagai ibadah. Kiai ikhlas mendidik, guru ikhlas membantu pendidikan, dan santri ikhlas dididik. Setelahnya barulah kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Urutan ini menarik. Seolah Gontor ingin mengatakan bahwa sistem sebesar apa pun membutuhkan niat yang benar sebagai hulunya.
Namun, keikhlasan Gontor tidak berhenti menjadi pelajaran di kelas atau slogan di dinding.
Ia memperoleh bentuk kelembagaan yang sangat konkret pada 12 Oktober 1958.
Pada hari itu, Trimurti mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam. Yang diserahkan ketika itu bukan simbol belaka: tanah kering seluas 1,740 hektare, tanah basah 16,851 hektare, serta 12 gedung. Setahun kemudian dibentuk Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern untuk memelihara dan mengembangkan kekayaan wakaf tersebut.
Di sinilah salah satu keputusan paling menentukan dalam sejarah Gontor terjadi.
Para pendiri tidak hanya membangun pondok. Mereka berani melepaskan kepemilikan atas pondok yang mereka bangun.
Ini bukan perkara sederhana. Banyak orang mampu mendirikan lembaga, tetapi tidak semuanya mampu memisahkan lembaga itu dari dirinya. Banyak orang mampu membesarkan organisasi, tetapi tidak semuanya siap melihat organisasi tersebut hidup tanpa harus menjadi milik keluarga atau keturunannya.
Wakaf Gontor dengan demikian adalah pernyataan tentang orientasi: bahwa lembaga pendidikan harus lebih panjang umurnya daripada manusia yang mendirikannya.
Keikhlasan pendiri lalu diuji oleh generasi berikutnya. Sebab pendiri dapat ikhlas mewakafkan, tetapi wakaf tidak akan berkembang apabila pengurus sesudahnya merasa menjadi pemilik. Di sinilah keberlanjutan lembaga ditentukan. Setiap generasi menerima Gontor sebagai amanah yang harus diperbesar manfaatnya sebelum diserahkan lagi kepada generasi berikutnya, bukan sebagai warisan yang hanya dinikmati.
Prinsip itu menjelaskan mengapa kaderisasi menjadi sangat penting. Orang datang dan pergi. Kiai berganti. Guru berganti. Santri berganti. Pengurus Badan Wakaf pun berganti. Tetapi nilai, sistem, dan tujuan harus tetap hidup. Maka keberhasilan lembaga semestinya diukur, apakah sistem tetap berjalan ketika seseorang tidak lagi memimpin?
Seratus tahun kemudian, buahnya terlihat. Menjelang puncak peringatan satu abad pada 18–20 September 2026, Gontor mencatat jaringan alumni dalam ratusan cabang IKPM di dalam dan luar negeri, sementara alumninya mengelola lebih dari 1000 pesantren di berbagai daerah. Angka itu penting, tetapi angka bukan inti cerita Gontor.
Tantangan abad kedua justru semakin berat. Ketika lembaga masih kecil, godaannya adalah keterbatasan. Ketika lembaga sudah besar, godaannya berubah menjadi kepentingan.
Ketika miskin, orang diuji oleh kekurangan. Ketika memiliki banyak aset, orang diuji oleh kemampuan menjaga amanah.
Ketika belum terkenal, orang diuji oleh kesabaran. Ketika terkenal, orang diuji oleh ketulusan.
Karena itu, tantangan terbesar Gontor abad kedua mungkin bukan bagaimana memperbanyak gedung, kampus, santri, atau unit usaha. Semua itu tetap penting. Namun yang jauh lebih menentukan adalah: apakah jiwa yang membangun semuanya masih sama?
Keikhlasan tidak dapat dibeli. Ia harus diwariskan melalui keteladanan.
Mungkin di situlah salah satu rahasia umur panjang Gontor: pendirinya ikhlas membangun, wakifnya ikhlas menyerahkan, dan generasi pengurusnya dituntut terus-menerus ikhlas menjaga.
Jika mata rantai itu tetap utuh, abad kedua bukan sekadar kelanjutan dari seratus tahun pertama. Ia dapat menjadi awal dari pengabdian yang jauh lebih besar.
Selamat 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Semoga tetap menjadi Gontor, yang besar tanpa kehilangan kesederhanaan, maju tanpa kehilangan jiwa, mandiri tanpa kehilangan ukhuwah, dan berkembang tanpa kehilangan keikhlasan.
Artikel ini bermanfaat? Bagikan kepada yang lain.


